Artikel

[Artikel][bleft]

Pendidikan

[Pendidikan][twocolumns]

Merubah Mindset Siswa Jadi Buruh Menjadi Pengusaha

Pilihan menjadi karyawan, buruh atau pegawai tampaknya lebih mendominasi kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia dari pada memilih hidup mandiri menjadi wirausaha atau pengusaha. Hal ini terbukti ketika kita bertanya tentang masa depan mereka, maka mereka cenderung menjawab paling banyak menjadi pegawai, mulai dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), karyawan perusahaan, staf kantor dan lain sebagainya. Masalahnya adalah ketersediaan dan pertumbuhan lapangan kerja di Inonesia ternyata lebih kecil dari pertumbuhan tenaga kerja produktif yang ada. Akibatnya, tingkat pengangguran di tanah air terus meningkat dari tahun ke tahun, terbilang pada angka sekitar 20% - 25%. Untuk lulusan perguruan tinggi saja per tahun terbilang sekitar 200.000 terserap di dunia kerja. Bayangkan bagaimana lulusan SMA/MA dan sederajat yang tentu saja lebih banyak? Harian Kompas mencatat tahun 2010 SMA/MA masing-masing menempati peringkat satu atau dua dalam menyumbang pengangguran. Pertanyaannya bagaimana dengan kondisi sekarang? Walaupun upaya pemerintah sudah memaksimalkan lapangan pekerjaan itupun belum bisa menanggulanginya.

Sayangnya kondisi tersebut tetap saja tidak mampu mengubah pilihan masa depan sebagian besar masyarakat untuk memikirkan menjadi pengusaha sejak lulus Madrasah Aliyah. Padahal banyak sekali keuntungan dan keunggulan menjadi pengusaha. Pertama dengan menjadi pengusaha maka pendapatan bisa diatur sendiri sesuai dengan keinginan. Hal ini berbeda dengan menjadi karyawan yang pendapatannya diatur oleh perusahaan dengan jumlah peningkatan terbatas pada setiap periodenya. Bahkan pertumbuhannya seringkali dibawah tingkat inflasi, sehingga sebetulnya kehidupan seorang karyawan bukan bertambah baik bahkan semakin sulit. Sebailknya menjadi pengusaha memungkinkan penghasilan tidak terbatas. Dengan kerja keras, cerdas, profesional, istiqomah, serta ijin Allah yang Maha Kuasa apapun yang diinginkan insyaAllah akan tercapai.

Kedua, menjadi wirausaha dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki, jika kita hobi melukis, tentu hal itu bisa kita jadikan sumber pendapatan yang tinggi dalam usaha. Misalkan saja melukis baju, jilbab, kaos, dan lainnya agar dapat dijual kembali dengan nilai yang lebih tinggi. Banyak bukti yang menunjukkan sukses bisnis ini. Seorang Ibu di Malang diketahui kini telah menjadi pengusaha besar karen kemampuannya melukis baju dan jilbab. Begitu juga seorang pembatik meraih sukses lantaran menjual kaos dan baju yang bergambar tokoh yang tengah menjadi idolanya. Bahkan hobi memasak pun sekarang bisa untuk dijadikan kuliner yang luar biasa keuntungannya. Didaerah kudus ada beberapa kuliner yang walaupun tempatnya digang sempit karena menu masakannya enak kadang bukanya hanya hitungan jam sudah habis. Ini menunjukkan bahwa potensi dan bakat yang dimiliki seseorang bisa menjadi salah satu bentuk usaha yang dapat dikapitalisasi sebagai komoditas bisnis.

Ketiga, menjadi pengusaha membuat hidup berwarna dan tidak monoton. Berbeda dengan bekerja untuk orang lain yang menuntut serba keteraturan dan cenderung tidak bebas. Pagi hari kita mandi dan bersiap untuk berangkat kerja dan sorenya baru dapat pulang untuk istirahat, belum yang dipabrik yang menggunakan kerja sif, kadang siang kerja kadang juga malam juga kerja dengan ritual yang sama setiap minggunya. Pola kehidupan yang terus berulang ulang sama itu adalah resiko menjadi pegawai. Bagaimana jika kita menjadi pengusaha, kedisplinan tentu tetap diperlukan, hanya bedanya waktu dan kegiatan dapat kita lakukan diatur menurut perencanaan sendiri, apakah tetap monoton, diubah-ubah, atau bagaimana lagi, semua oke-oke saja karena bisa diatur dan disesuaikan.

Keempat, Menjadi pengusaha akan jauh lebih bermanfaat bagi orang lain. kita tidak hanya memberi pekerjaan kepada diri sendiri akan tetapi juga memberi pekerjaan pada orang lain. Bahkan jika dijalankan dengan manajemen yang profesional, pendelegasian yang baik dan terstruktur, hal yang cukup kita lakukan hanya mengawasi (monitoring) saja. Sebagaimana menjadi pengusaha yang benar adalah kalau usaha bisa tetap berjalan dan berkembang tanpa kita harus berada didalamnya (running withaout me).

Memang banyak orang yang berfikir dirinya tidak mungkin bisa menjadi pengusaha. Mereka menganggap orang-orang tertentu saja yang bisa mencapainya. Sebagian besar masyarakat memang masih menganggap bahwa menjadi pengusaha harus didukung banyak faktor, seperti keturunan, bakat, lingkungan, dan lain sebagainya. Sehingga banyak siswa lulusan Madrasah Aliyah yang tidak mampu melanjutkan diperguruan tinggi cenderung melamar menjadi buruh pabrik atau sejenisnya karena merasa lebih mudah tidak membutuhkan modal. Padahal sebetulnya semua orang bisa menjadi pengusaha asal punya kemauan, keberanian, dan tekad yang kuat untuk mewujudkannya. 

Menjadi pengusaha merupakan hak asasi setiap orang yang ingin meningkatkan kesejateraan hidup ke taraf yang lebih baik. Menjadi pengusaha juga merupakan upaya mengurangi ketergantungan kepada pihak lain dan menjadi lebih mandiri. Dengan menjadi pengusaha, seseorang mengapresiasikan kemampuan yang dimilikinya secara optimal. Ada beberpa rujukan untuk menjadi pengusaha yang baik, antara lain yaitu : pertama punya keberanian mulai dari nol. Sebaiknya jangan berfikiran usaha yang dirintis akan langsung besar karena hal yang instan cenderung mengakibatkan hal yang kurang baik. Biarkanlah semua berproses secara alami, mulai dari tumbuh, berkembang kecil, menengah, sampai kemudian benar-benar menjadi usaha yang berhasil. Banyak orang ketika memulai usaha berpikiran akan langsung sukses tanpa melewati tahapan demi tahapan. Akibatnya, mereka kurang kokoh ketika diterpa badai. Padahal semakin banyak ditempa berbagai masalah dalam tahapan justru akan membuat semakin tangguh dalam menjalankan usaha dan semakin lihai dalam menyelasaikan setiap persoalan.

Kedua, penting bagi pengusaha untuk fokus dalam mengelola usaha, tidak boleh menjadikan usaha hanya sampingan. Dalam menjalankan banyak hal yang membutuhkan perhatian penuh dan penyelesaian dalam wktu yang cepat dan tepat. Sebab itu, perlu perhatian terus menerus agar setiap kali muncul persoalan dapat teratasi. Perubahan situasi dan kondisi ekonomi yang cepat tantangan tersendiri bagi pengusaha. Jika pintas menyiasatinya maka akan sukses sudah didepan mata. Sebaliknya jika salah menyikapinya maka kegagalan usaha menunggu waktunya. Bagi pengusaha yang tangguh setiap perubahan adalah tantangan (challenge) yang harus diselesaikan bukan untuk dihindari.

Ketiga, penting bagi pengusaha untuk berorientasi pada mndahulukan pemasaran daripada produksi. Sering kali terjadi, dikrenakan lebih fokus pada produksi ketimbang pemasaran pada akhirnya hanya menumpuk karena tiak terjual. Dampaknya biaya untuk penyipanan semakin membengkak, hal ini akan menyebabkan harga menjadi mahal dan akan mengurangi daya beli konsumen. Keempat, Ciptakanlah produk yang spesifik dan sulit ditiru oleh pesaing. Produk unik menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen karena mereka memperoleh sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada. Selain itu produk yang unik juga mendatangkan kebanggaan bagi penggunanya. Kebanggaan ini penting karena akian menumbuhkan kesetiaan konsumen. Kelima, perbanyaklah jaringan yang berhubungan dengan bisnis atau usaha yang dijalankan. Dengan jaringan yang baik pengusaha akan memperoleh banyak manfaat, antaralain pendistribusian yang lebih cepat dan merata, efisien waktu, tingkat harga yang bisa ditekan, menjamin ketersediaan produk dipasaran, mengurangi penyimpangan pembiayaan (deviasi anggaran), serta berbagai keunggulan lainnya.

Allah SWT menciptakan umat manusia dengan bekal dan posisi yang sama, jadi kalau orang lain bisa menjadi pengusaha kita pun bisa, apapun bisnis dan usahanya, siapapun pemiliknya, asal dikelola dengan manajemen yang baik pasi bisa berubah kesuksesan. Ingatlah menjadi pengusaha itu bukan faktor keturunan atau hal semacamnya. Kini tinggal kita sebagai pelajar yang mendapatkan pendidikan walaupun ditingkat Madrasah Aliyah apakah kita bisa memanfaatkan bakat, pendidikan, pengalaman dan keterampilan yang kita miliki untuk berjuang keras menjadi pengusaha atau tidak. Jadi mulailah untuk berfikir dan bertindak untuk menjadi pengusaha dari pada hanya menjadi buruh. Kalau tidak sekarang direncanakan kapan lagi? “Tinggalkan sesuatu yang meragukanmu, beralihlah pada sesuatu yang tidak meragukanmu”. (HR. Turmudi)

Oleh : NURUL ASROR, S.E.
(Pengajar Mapel Ekonomi MA Keterampilan Al Irsyad Gajah)
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

Tidak ada komentar :


Kegiatan

[Kegiatan][threecolumns]

Kesiswaan

[Kesiswaan][list]

Kepramukaan

[Kepramukaan][grids]

Pembelajaran

[Pembelajaran][bsummary]

Galleri

[Galleri][threecolumns]